Laman

Selasa, 21 Oktober 2014

Pra Wahyu Muhammad: Persiapan BerQur’an



Ibarat orang menanam tumbuhan, maka lahannya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik apabila lahannya baik. Sebaliknya, tumbuhan akan kerdil bila tanahnya kering, bahkan tidak mustahil akan mati. Al-Qur'an hanya bisa tumbuh pada hati yang bersih dan suci. Tidak dapat menyentuh Al-Qur'an kecuali orang-orang yang suci. Pada hati yang suci Al-Qur'an akan hidup dengan kokoh dan membuahkan akhlak yang agung. Karena itu di dalam menerima nilai-nilai wahyu dibutuhkan persiapan-persiapan ruhaniyah.Rosululloh saw dapat menerima Al-Qur'an secara paripurna karena jiwa beliau sudah terantar sedemikian rupa,sehingga klop dengan nilai Al-Qur'an. Beliau telah diberi kemampun mengaktualisasikan secara pribadi maupun sosial.

            Ada syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat berqur’an dengan baik, antara lain ; menjauhi sifat sombong (thagha’), tidak cinta dunia, menahan hawa nafsu dan takut kepada Tuhan. Thagha akan menolak kebenaran yang datang karena merasa paling benar, cinta dunia akan mengalahkan imannya, hawa nafsu akan menghalangi hati dari petunjuk, dan orang yang tidak takut kepada Alloh akan teledor terhadap kewajibannya sebagai hamba. Sifat-sifat tersebut mendapatkan ancaman dari Alloh SWT :
            Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).(QS 79/An-Naazi’aat : 37-41)
            Sifat-sifat mulia yang dimiliki Rosul tidak lepas dari perjalanan hidupnya sebelum menerima wahyu. Ada proses manusiawi di samping proses Ilahiah, sehingga beliau mampu tertempa menjadi manusia yang siap mengemban Al-Qur’an. Beliau memiliki sifat-sifat yang sangat kondusif terhadap masuknya nilai-nilai Al-Qur’an. Seprti yang kita ketahui, yaitu shiddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas), serta sifat-sifat terpuji lainnya.
            Priode kehidupan yang mengantarkan Muhammad ke jenjang kenabian ini selayaknya dicermati untuk diambil hikmahnya, mengingat tetap berlakunya Sunnatulloh berupa hokum sebab-akibat dari proses kehidupan tersebut terhadap hasil berikutnya.
            Hasil dari proses pendidikan sejak lahir tersebut menjadi salah satu prasyarat kelayakan Muhammad untuk menerima wahyu dan mengemban amanah Alloh SWT di muka bumi ini. Bila disimpulkan, episode panjang selama 40 tahun itu telah mencakup segala aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Diawali pada penekanan aspek psikologis, aspek sosial, ekonomi, hukum dan diakhiri dengan pendalaman aspek falsafi. Kelima bidang ini tepat dengan pembagian secara garis besar fase-fase kehidupan Muhammad yang terbagi dalam lima tahap, yaitu ; fase yatim, fase mengembala, fase berdagang, fase berkeluarga dan fase ber-gua Hira.
            Berikut diantara hikmah-hikmah dari proses pra-wahyu :


Fase Yatim.
            Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 570 Masehi di Mekkah.
    Ayah beliau Abdullah dan ibu beliau Aminah. Sebelum beliau lahir, ayah beliau telah meninggal dunia dan dimakamkan di Madinah. Kemudian beliau diasuh oleh kakek beliau, Abdul Muthalib, seorang pembesar Quraisy, yang sangat mencintai Muhammad. Ia pernah berkata: “Putraku Muhammad memiliki masa depan yang cemerlang.”
Menginjak usia enam tahun, ibu beliau meninggal dunia. Pada usia sembilan tahun, kakek beliau pun meninggal dunia. Sebelum wafat, Abdul Muthalib menitipkan cucunya ini (saw) kepada putranya, Abu Thalib agar menjaga dan merawatnya.
Sejak lahir, Muhammad tidak dikenalkan secara akrab dengan ayah, ibu dan kakeknya. Padahal orang tua merupakan orang terdekat yang membentuk pola pikir dan kepribadian anak. Hal ini menjadikan kepribadian Muhammad tidak terwarnai dan tetap fitrah dari pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat jahiliah pada saat itu. Fakta ini didukung dengan peristiwa pengasuhan Muhammad kecil di pegunungan Bani Sa’diyah, sebuah dusun yang jauh dari keramaian kota. Hal ini juga pembebasan dari pengaruh idiologi orang-orang kuat di sekitarnya yang akan menjadi jaminan akan kemurnian risalah kelak. Sebab, bagaimanapun, kakek beliau, Abdul Muthalib merupakan orang berpengaruh di tengah kaumnya. Tumbuhnya Muhammad sebagai anakyatim ini juga menjaganya dari tangan-tangan yang memanjakannya, baik harta maupun kemudahan lain. Otomatis hal ini mencetak kepribadiannya untuk tidak tergatung terhadap keduniaan dan kedudukan. Fase ini juga mendidik Muhammad untuk tidak memiliki sifat sombong, merasa benar dan mau menang sendiri. Sebab pada kenyataannya memang tidak ada yang pantas untuk ia banggakan kepada teman-temannya. Selain itu fase ini melahirkan Muhammad yang mandiri, berani menghadapi hidup dan tidak takut risiko.
            A
l Qur’an telah mengisyaratkan bahwa beliau saw. adalah seorang anak yatim:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. (QS. Ad Dhuha: 6).

Fase Menggembala
Ketika rasulullah saw. masih remaja beliau mengembala kambing untuk penduduk mekkah dengan mengambil beberap upah dari kerjanya tersebut. Diceritakan oleh imam malik, bahwasanya di sampaikan kepadanya bahwasanya rasulullah saw. telah bersabda: bahwa tidak seorangpun dari seorang nabi kecuali ia telah mengembala kambing, kemudian beliau saw. ditanya: dan anda bagaimang wahai rasulullah? beliau saw. menjawab: saya juga”.(Muwattha’ oleh Imam Malik).
            Mengembala kambing, sesuai denga situasi saat itu, memaksa seseorang untuk menjauh dari hiruk-pikuk keduniawian. Menjadipengembala juga memaksa seseorang untuk peduli secara detail terhadap sesuatu, utamanya terhadap yang digembalakannya. Salah satu sakit, harus diobati,yang beranak diperlakukan khusus, sedangkan yang lain harus tetap mendapat perlakuan yang adil, agar tidak ada yang terdzalimi. Hal ini mendidik seseorang untuk memiliki sifat adil, tidak mudah menyamaratakan sesuatu tapa melihat leih detail terhadap keadaan yang ada. Bisa saja rata-rata demikian, namun ada kalanya tidak demikian. Pendekatan semacam ini mutlak penting bagi siapapun yang yang hendak menempatkan diri sebagai pemimpin. Jiwa sosial Muhammad tertempa dengan aktivitas seperti ini. Hal ini juga memberikan penekanan bahwa, sebaik-baik harta adalah yang didapat dari hasil usaha sendiri. Untuk hidup mulia, seorang harus sanggup memeras keringat secara wajar. Mengembala juga bukan pekerjaan terhormat, sehingga lagi-lagi Muhammad tertempa menjadi manusia rendah hati. Selain itu, aktivitas ini menyatu dengan alam, cinta alam, alam tidak pernah berdusta, sehingga akan membantu mempertajam sifat shiddiq.

Berdagang
            Beliau
mengikuti perjalanan berdagang ke luar dari mekkah dua kali, yang pertama bersama dengan pamannya Abu Thalib ketika beliau saw. berumur 12 tahun, perjalanan yang ke dua ketika beliau berumur 25 tahun untuk melakukan perdagangan dengan harta Khadijah ra. Kedua perjalanan tersebut ke kota Bashrah di syam, dalam kedua perjalanan tersebut beliau saw. mendengarkan percakapan yang dilakukan para pedagang, dan beliau saw. menyaksikan peninggalan-peninggalan negeri yang dilewatinya begitupun adat istiadat (kebiasaan) yang di lakukan oleh para penduduknya.
Apa yang didapat Muhammad dari pekerjaan barunya itu? Selain menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab yang lebih besar, Muhammad juga dituntut membuktikan bahwa kejujurannya tidak lekang oleh panas maupun hujan, juga tidak tergantung pada tempat dan waktu, bersifat universal (menyeluruh). Kegiatan ini juga memberikan penekanan bahwa sebaik-baik harta adalah yang didapat dari usaha sendiri. Dengan tahap demi tahap yang dilalui Muhammad, beliau memdapat didikan tentang realita kehidupan yang lebih sistematis. Berdagang juga memberikan sebuah pegalaman baru, yaitu tentang dunia perekonomian, dimana perdagangan merupakan proses perputaran kegiatan ekonomi, kegiatan yang penuh tipu daya dan strategi, sehingga Muhammad tertempa menjadi pribadi yang kritis dalam menanggapi perubahan. Dunia perdagangan juga merupakan pintu untuk menyentuh hajat hidup orang banyak. Menyentuh wilayah ini sama halnya menyentuh semua bagian kehidupan. Di pusat perdagangan berbagai kepentingan bermunculan, dan semua lapisan masyarakat hadir pada waktu yang sama. Selain harus cerdik, untuk sukses berdagang seseorang perlu sabar, telaten dan hati-hati. Berdagang juga merupakan pintu untuk berhubungan dengan semua manusia, dalam kata lain bermasyarakat dan berdiplomasi. Fase ini mepertajam sifat amanah.

Ber Khadijah
            Nabi saw, pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah binti Khuwailid. Seorang wanita Quraisy terhormat, konglomerat dan suci. Dari pernikahan dengan beliau saw, Khadijah melahirkan dua putra yang kemudian meninggal di masa kanak mereka. Dan melahirkan empat putri: Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah.      
Hal yang tidak diperkirakan orang tentang Khadijah adalah pengabdian yang tulus kepada agama. Khadijah juga merupakan pendukung pertama gerakan dakwah, dan tetap setia hingga masa kematiannya. Hartanya yang melimpah, keseluruhannya disumbangkan demi kemajuan Islam. Sosok Khadijah merupakan simbol yang memang sangat dibutuhkan untuk memajukan dakwah sepanjang zaman.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (Adh Dhuha: 8)
                        Selain itu juga,menjadi suami Khadijah merupakan penempaan bagi Muhammad untuk bisa melayani ummatnya sepenuh hati. Perbedaan usia antara keduanya ini gampang sekali menimbulkan sikap mentang-mentang. Sementara bagi Muhammad sendiri harus bisa menjaga sikap dan perkataannya demi tidak menyinggung perasaan istrinya, sekecil apapun. Lagi-lagi pemuda ini dituntut untuk menjauhkan diri dari sikap sombong. Berkeluarga sebagaimana umumnya merupakan bertujuan untuk melangsungkan hidup dan berketurunan, namun itu bukan tujuan utama. Pada kenyataannya tujuan utama hidup adalah menuju Yang Mahahidup. Fase ini menumbuhkan sikap tabligh dan fathanah, yaitu sifat yang mampu membawa misi hidup dan berfikir strategis.

Ber-gua Hira'
            Pada usia 35 tahun, b
eberapa tahun sebelum beliau saw. di utus menjadi seorang rasul, Allah swt. menjadikan beliau saw. senang untuk berkhalwat (menyepi untuk beribadah) di gua hira (sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut di mekkah). Beliau berkhalwat di tempat tersebut sekitar sebulan lamanya, dan hal tersebut beliau lakukan di bulan ramadhan, untuk memikirkan karunia-karunia Allah swt. Rasulullah saw. senantiasa melakukan hal tersebut sampai wahyu datang kepadanya, dan al qur’an turun kepadanya.
Kholwat/ tahanust adalah kecendrungan diri kepada Alloh SWT dengan mengikuti agama Ibrahim.  Dengan berkholwat itu secara langsung juga menumbuhkan kekuatan jiwa, kebersihan hati, dan menghimpun kekuatan berfikir serta keberanian. Selain itu juga, bertahanus juga menjadi benteng pertahanan diri guna persiapan menerima wahyu pertama maupun wahyu berikutnya, tanpa merusak fisik dan mengganggu paksa hak-hak orang lain.
            Pada fase ini, Muhammad memdapat didikan untuk mengumpulkan kekutan berfikir dan melatih hidup susah, melenyapkan segala perasaan takut dan sebagainya kepada seluruh makhluk, sehingga beliau jadi terbiasa, tidak merasa liar dan sepi serta tidak merasa takut. Dengan jiwa seperti ini, beliau akan siap untuk memimpin seluruh alam ini. Saat menyendiri di Goa Hira itulah ia mendapatkan jawaban jalan keluar dan petunjuk dari Tuhannya. 
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (QS. Adh Dhuha: 7)

            Kelima tahapan inilah yang mengantarkan Muhammad pada gerbang kenabian. Secara substansial, pada skala yang lebih kecil, tahapan seperti ini juga akan dilalui siapapun yang menginginkan dan memperoleh hidayah (petunjuk) Alloh SWT.
            Sifat mandiri dan rendah hati, suka bekerja keras, tidak mendahulukan nafsu badani dan serius mencari kebenaran hakiki dengan segala cara, merupakan prasyarat agar hidayah itu merasuk kedalam sanubari. Sebab, lawan dan sifat-sifat itu semuanya akan cenderung merusak, dan bila demikian maka tidak akan membawa kesejahteraan bagi manusia dan alam semesta.

Ringkasan:
l         Al-Qur'an hanya bisa tumbuh pada hati yang bersih dan suci. Tidak dapat menyentuh Al-Qur'an kecuali orang-orang yang suci. Karena itu di dalam menerima nilai-nilai wahyu dibutuhkan persiapan-persiapan ruhaniyah.
l         Rosululloh saw dapat menerima Al-Qur'an secara paripurna karena jiwa beliau sudah terhantar sedemikian rupa,sehingga klop dengan nilai Al-Qur'an. Beliau telah diberi kemampun mengaktualisasikan secara pribadi maupun sosial.
l         Ada syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat berqur’an dengan baik, antara lain ; menjauhi sifat sombong (thagha’), tidak cinta dunia, menahan hawa nafsu dan takut kepada Tuhan.          
l         Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).(QS 79/An-Naazi’aat : 37-41)
l         Sifat-sifat mulia yang dimiliki Rosul tidak lepas dari perjalanan hidupnya sebelum menerima wahyu. Ada proses manusiawi di samping proses Ilahiah, sehingga beliau mampu tertempa menjadi manusia yang siap mengemban Al-Qur’an. Beliau memiliki sifat-sifat yang sangat kondusif terhadap masuknya nilai-nilai Al-Qur’an. Yaitu; shiddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas), serta sifat-sifat terpuji lainnya.
l         Episode panjang selama 40 tahun hidup beliau itu telah mencakup segala aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Diawali pada penekanan aspek psikologis, aspek sosial, ekonomi, hukum dan diakhiri dengan pendalaman aspek falsafi (hakekat hidup).
l         Kelima bidang ini tepat dengan pembagian secara garis besar fase-fase kehidupan Muhammad yang terbagi dalam lima tahap, yaitu ; fase yatim, fase mengembala, fase berdagang, fase berkeluarga dan fase ber-gua Hira.
l         Fase Yatim: tidak terpengaruh lingkungan, terjaga firah, tidak manja, tidak sombong, mandiri, berani menghadapi hidup dan tidak takut risiko.
l         Fase Menggembala: menjauh dari hiruk-pikuk keduniawian, peduli, adil, jiwa sosial tumbuh, kerja keras, rendah hati, dekat/ cinta alam (alam tidak pernah berdusta), menumbuhkan sifat shiddiq.
l         Fase  Berdagang: menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab yang lebih besar, teruji kejujurannya, mandiri, memahami realita kehidupan (yang penuh tipu daya dan strategi), diplomasi, cerdik, sabar, telaten dan hati-hati. Fase ini mepertajam sifat amanah.
l        Ber Khadijah: khadijah pendukung dakwah, melayani ummat, Fase ini menumbuhkan sikap tabligh dan fathanah, yaitu sifat yang mampu membawa misi hidup dan berfikir strategis.
l        Ber-gua hira: kecendrungan diri kepada Alloh, menyiapkan kekuatan jiwa, kebersihan hati, dan menghimpun kekuatan berfikir serta keberanian, persiapan menerima wahyu pertama maupun wahyu berikutnya, siap untuk memimpin seluruh alam ini.



Download Mareri Pra Wahyu Muhammad: Persiapan BerQur’an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar