Laman

Selasa, 21 Oktober 2014

Pencerahan Wahyu Pertama: Iqra’



1.       Dari mana mulai ber Qur’an? Mungkin ada yang menjawab Al Ikhlas, bukankah al ikhlas berisi pesan tauhid secara eksplisit? Atau dari Al Fatihah. Bukankah Al Fatihah adalah ummul Qur’an? Tetapi kalau kita mengacu pada perjalanan turunnya Al Qur’an maka jawabnya adalah dari Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq. Perintah inilah yang pertama kali turun pada Rasul.
2.       Iqra’ adalah fiil amar (kalimat perintah). Artinya: bacalah! Al Maraghi dan Rasyid Ridha menafsirkan iqra’: Jadilah pembaca, dimana anda sebelumnya tidak demikian. Imam Hanafi: Laksanakanlah yang telah diperintahkan Al Qur’an. Al Jamal: Simaklah yang dibacakan. Fachrur Razi: Bacalah, yang pertama- tama untuk dirimu sendiri. Kemudian sampaikan kepada orang lain.
3.       Perintah qara’a (membaca) juga diulang- ulang dalam Al Qur’an dengan berbagai istilah. Ada yang dari kata dasar bashara, nadzara, ra’a, yang artinya melihat, atau membaca dengan mata. Yang berasal dari kata dasar sami’a, artinya mendengar atau membaca dengan telinga. Juga yang berasal dari kata dasar; ‘aqala, ‘alima, ‘arifa dan dzakara, yang artinya membaca dengan akal atau hati nurani.

4.       Ada beberapa hikmah yang terkandung dengan dimulainya perintah iqra’, antara lain:
a.       Memulai berIslam dengan kesadaran. Berislam dari berIqra’ akan mampu membawa seseorang membuat perubahan- perubahan Qur’ani dirinya yang paling dalam. Iqra’ yang menghantarkan seseorang untuk betauhid secara sadar, bukan ikut- ikutan. Tanpa keasadaran seseorang tak bisa melakukan perubahan dirinya dari dalam. Dia akan sangat tergantung lingkungannya. Seseorang yang menjalankan sesuatu tanpa kesadaran tauhid, tidak punya nilai dan makna. Sebab aspek batiniah hanya bisa disertai dengan kesadaran, dalam hal ini niat ikhlas karena Allah.
b.       Dengan disertai kesadaran, Islam menjadi kebutuhan. Seseorang yang memilih Islam sebagai agamanya secara sadar, akan merasakan Islam sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban atau paksaan.
c.       Punya kemampuan mendakwahkan dan memperjuangkan. Pilihan kesadaran dari beriqra’ membuat seseorang mampu mendakwahkan dan memperjuangkan pilihan hidupnya itu.
5.       Perbedaan orang yang berIslam antara yang beriqra’ dan yang tidak:
a.       Yang berIqra’ akan berislam dengan: Pilihan kesadaran, ittiba’ secara benar, kembali pada Qur’an dan sunnah, militan Islam, aktif dan penuh gelora juang.
b.       Yang tanpa beriqra’ akan berislam dengan: turun temurun, taqlid, kembali ke tradisi, fanatik golongan, pasif dan tidak memiliki ruh Islam.
6.       Instrumen ber Iqra’:
a.       Panca indra. Kegunaannya mampu melihat benda- benda yang ada di sekeliling kita. Dengan panca indra kita mampu melihat alam semesta dan mendapat ilmu pengetahuan darinya. Tetapi panca indra juga memiliki keterbatasan yaitu tidak mampu melihat hal yang bersifat non fisik. Bahkan hal yang bersifat fisik saja, panca indra juga sering tertipu. Terkait dengan ma’rifatullah; melalui panca indra kita dapat menyaksikan tanda kebesaran melalui ciptaan- Nya. 
b.       Rasio. Rasio atau akal pikiran mampu menganalisa dan menyimpulkan hal- hal yang ditangkap panca indra. Matahari yang tampak kecil oleh mata, dengan akal pikiran manusia dapat memperkirakan bahwa matahari besarnya jauh melebihi bumi. Kebenaran yang dapat dicapai akal adalah yang obyektif rasional, misalnya pengembangan Iptek. Terhadap hal yang irrasional intelektual manusia tak dapat menjangkaunya. Dengan akal pikirannya manusia bisa menyaksikan keteraturan alam semesta.
c.       Qalbu. Kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Manusia juga harus memiliki EQ (Qalbu). Bahkan qalbu ternyata memiliki peran yang lebih penting dan sentral dalam kehidupan. Intuisi, ide ilhami, juga merupakan kemampuan qalbu yang tak dimiliki oleh akal pikiran. Kesadaran berTuhan, berkorban, berasal dari kecerdasan qalbu. Namun qalbu juga memiliki keterbatasan, karena itu masih membutuhkan pembimbing.
d.       Wahyu. Keterbatasan panca indra, rasio dan qalbu, menyingkap kebenaran hakiki perlu disinari dengan cahaya pembimbing yaitu wahyu. Dengan disinari wahyu hilanglah kegelapan dan terang benderanglah hakekat kebenaran. Tentang Tuhan, kehidupan setelah mati, sorga dan neraka, telah diungkap dalam wahyu Allah sebagai berita kebenaran.
7.       Terserap dan teraktualisasinya secara optimal dari wahyu pertama kepada Rasul di Goa Hira’, ditunjang beberapa faktor:
a.       Faktor internal: Sikap Rasul tidak sombong, tidak materialis, tidak didominasi nafsu, butuh bertemu Tuhan, mencari jawaban dan rasa tanggung jawab.
b.       Faktor eksternal: Kemusyrikan merajalela, rusaknya peradaban dan moral.
8.       Kesiapan Rasul menerima misi Al Qur’an, selain faktor ilahiyah yang tak mampu diungkap, secara manusiawi juga ditunjang oleh sikap dan perjalanan hidup beliau sebelum menerima wahyu (pra wahyu). Beberapa hikmahnya antara lain:
a.       Keyatiman dan Ummi: fitrah terjaga, tidak sombong, mandiri, berani, terbebas dari pengaruh keluarga, mengenal kematian sejak dini, tidak mengandalkan pada dunia.
b.       Menggembala: Menumbuhkan tanggung jwab, kepemimpinan, interaksi dengan alam, mengasah sifat jujur.
c.       Berdagang: mengenal realitas kehidupan interpersonal, mengasah sifat amanah.
d.       Berkhadijah: Bersikap dewasa, berfikir strategus, mampu membawa misi (tabligh).
e.       Bergoa Hira’: bertahannuts, mencari kebenaran, menjernihkan ruhani, siap menerima wahyu.

Iqra’ bismirabbika

1.       Membaca tidak selalu menghasilkan sesuatu yang benar. Apalagi dalam ma’rifatullah. Al Qur’an memberikan tuntunan membaca yang benar; yaitu Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq! Inilah perubahan pertama yang akan melahirkan pencerahan dan kesadaran hidup ber Tuhan.
2.       Perubahan yang mengacu pada kesombongan akal pikiran, melahirkan pandangan hidup sekular. Perubahan yang dipicu rasa dendam melahirkan komunisme.
3.       Dengan iqra’ bismirabbika, manusia dapat mengambil jarak berfikir sehingga tidak terbelenggu oleh subyektivitas nafsunya. Ia juga dapat mengambil jarak dengan orientasi hidup jahiliah menuju orientasi hidup yang utuh. Tidak hanya pencerahan secara horisontal, tetapi juga vertikal.
4.       Metode ini mendasarkan pada fitrah rububiyah yang dimiliki setiap manusia, yaitu kesadaran berTuhan. Setiap jiwa manusia pernah berdialog dengan Tuhannya.
5.       Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. 7/ Al A’raaf: 172).
6.       Beberapa kendala Iqra’bismirabbika:
a.       Belenggu tradisi dan sejarah (31: 21)
b.       Fanatisme kesukuan atau kebangsaan (3: 75)
c.       Kesombongan akal (28: 78)
d.       Persangkaan yang dianggap kebenaran
e.       Nafsu yang diikuti (45: 23)
f.        Cinta dunia (79: 37- 39)
g.       Pendapat orang banyak
7.       Instrumen iqra’ bismirabbik adalah fikir dan dzikir (96: 1) (3: 190); indra, rasio, qalbu dan wahyu. Sedangkan yang tidak bismirabbik mengabaikan wahyu.
8.       Motivasi yang mendasari iqra’ bismirabbik adalah ikhlas karena Allah sehingga tidak terjebak pada kepentingan nafsu. Sedangkan yang tidak bismirabbik akan terjebak oleh hawa nafsu; harta, tahta, syahwat.
9.       Pedoman yang diikuti dalam iqra’ bismirabbik yaitu petunjuk Allah (2: 257), mengenal kekuasaan Allah (3: 190), sehingga makin menambah iman (8: 2), bahagia (2: 38), dan masuk sorga- Nya. Sedangkan yang tidak bismirabbik mengikuti persangkaan dan hawa nafsu (53: 23), menuju kegelapan (2: 257), lebih sesat dari binatang (7: 179), hancur binasa (23: 71), dan penghuni neraka (7: 179).
10.   Iqra’bismirabbik menghantar seseorang memiliki cara pandang, cara sikap dan tujuan yang dilandasi nilai tauhid. Motivasi atau niatnya lillah (ikhlas karena Allah)(2: 207- 208); (1:4); (6: 162). Metode yang digunakan sesuai (tak bertentangan) dengan syariah atau  fillah/ billah (4: 59); (6: 153). Tujuannya yaitu ilallah (menuju ridha Allah) (6: 162- 163). 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar