1. Dari mana mulai ber Qur’an? Mungkin ada yang menjawab
Al Ikhlas, bukankah al ikhlas berisi pesan tauhid secara eksplisit? Atau dari
Al Fatihah. Bukankah Al Fatihah adalah ummul Qur’an? Tetapi kalau kita mengacu
pada perjalanan turunnya Al Qur’an maka jawabnya adalah dari Iqra’
bismirabbikalladzi khalaq. Perintah inilah yang pertama kali turun pada Rasul.
2. Iqra’ adalah fiil amar (kalimat perintah). Artinya:
bacalah! Al Maraghi dan Rasyid Ridha menafsirkan iqra’: Jadilah pembaca, dimana
anda sebelumnya tidak demikian. Imam Hanafi: Laksanakanlah yang telah
diperintahkan Al Qur’an. Al Jamal: Simaklah yang dibacakan. Fachrur Razi:
Bacalah, yang pertama- tama untuk dirimu sendiri. Kemudian sampaikan kepada
orang lain.
3. Perintah qara’a (membaca) juga diulang- ulang dalam Al
Qur’an dengan berbagai istilah. Ada yang dari kata dasar bashara, nadzara,
ra’a, yang artinya melihat, atau membaca dengan mata. Yang berasal dari
kata dasar sami’a, artinya mendengar atau membaca dengan telinga. Juga
yang berasal dari kata dasar; ‘aqala, ‘alima, ‘arifa dan dzakara, yang
artinya membaca dengan akal atau hati nurani.
4. Ada beberapa hikmah yang terkandung dengan dimulainya
perintah iqra’, antara lain:
a. Memulai berIslam dengan kesadaran. Berislam dari berIqra’ akan mampu membawa seseorang
membuat perubahan- perubahan Qur’ani dirinya yang paling dalam. Iqra’ yang
menghantarkan seseorang untuk betauhid secara sadar, bukan ikut- ikutan. Tanpa
keasadaran seseorang tak bisa melakukan perubahan dirinya dari dalam. Dia akan
sangat tergantung lingkungannya. Seseorang yang menjalankan sesuatu tanpa
kesadaran tauhid, tidak punya nilai dan makna. Sebab aspek batiniah hanya bisa
disertai dengan kesadaran, dalam hal ini niat ikhlas karena Allah.
b. Dengan disertai kesadaran, Islam menjadi kebutuhan. Seseorang yang memilih Islam sebagai agamanya secara
sadar, akan merasakan Islam sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban atau
paksaan.
c. Punya kemampuan mendakwahkan dan memperjuangkan. Pilihan kesadaran dari beriqra’ membuat seseorang
mampu mendakwahkan dan memperjuangkan pilihan hidupnya itu.
5. Perbedaan orang yang berIslam antara yang beriqra’ dan
yang tidak:
a. Yang berIqra’ akan berislam dengan: Pilihan kesadaran,
ittiba’ secara benar, kembali pada Qur’an dan sunnah, militan Islam, aktif dan
penuh gelora juang.
b. Yang tanpa beriqra’ akan berislam dengan: turun
temurun, taqlid, kembali ke tradisi, fanatik golongan, pasif dan tidak memiliki
ruh Islam.
6. Instrumen ber Iqra’:
a. Panca indra.
Kegunaannya mampu melihat benda- benda yang ada di sekeliling kita. Dengan
panca indra kita mampu melihat alam semesta dan mendapat ilmu pengetahuan
darinya. Tetapi panca indra juga memiliki keterbatasan yaitu tidak mampu
melihat hal yang bersifat non fisik. Bahkan hal yang bersifat fisik saja, panca
indra juga sering tertipu. Terkait dengan ma’rifatullah; melalui panca indra
kita dapat menyaksikan tanda kebesaran melalui ciptaan- Nya.
b. Rasio. Rasio
atau akal pikiran mampu menganalisa dan menyimpulkan hal- hal yang ditangkap
panca indra. Matahari yang tampak kecil oleh mata, dengan akal pikiran manusia
dapat memperkirakan bahwa matahari besarnya jauh melebihi bumi. Kebenaran yang
dapat dicapai akal adalah yang obyektif rasional, misalnya pengembangan Iptek.
Terhadap hal yang irrasional intelektual manusia tak dapat menjangkaunya.
Dengan akal pikirannya manusia bisa menyaksikan keteraturan alam semesta.
c. Qalbu.
Kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Manusia juga harus memiliki EQ
(Qalbu). Bahkan qalbu ternyata memiliki peran yang lebih penting dan sentral
dalam kehidupan. Intuisi, ide ilhami, juga merupakan kemampuan qalbu yang tak
dimiliki oleh akal pikiran. Kesadaran berTuhan, berkorban, berasal dari
kecerdasan qalbu. Namun qalbu juga memiliki keterbatasan, karena itu masih
membutuhkan pembimbing.
d. Wahyu. Keterbatasan
panca indra, rasio dan qalbu, menyingkap kebenaran hakiki perlu disinari dengan
cahaya pembimbing yaitu wahyu. Dengan disinari wahyu hilanglah kegelapan dan
terang benderanglah hakekat kebenaran. Tentang Tuhan, kehidupan setelah mati,
sorga dan neraka, telah diungkap dalam wahyu Allah sebagai berita kebenaran.
7. Terserap dan teraktualisasinya secara optimal dari
wahyu pertama kepada Rasul di Goa Hira’, ditunjang beberapa faktor:
a. Faktor internal: Sikap Rasul tidak sombong, tidak
materialis, tidak didominasi nafsu, butuh bertemu Tuhan, mencari jawaban dan
rasa tanggung jawab.
b. Faktor eksternal: Kemusyrikan merajalela, rusaknya peradaban
dan moral.
8. Kesiapan Rasul menerima misi Al Qur’an, selain faktor
ilahiyah yang tak mampu diungkap, secara manusiawi juga ditunjang oleh sikap
dan perjalanan hidup beliau sebelum menerima wahyu (pra wahyu). Beberapa
hikmahnya antara lain:
a. Keyatiman dan Ummi: fitrah terjaga, tidak sombong,
mandiri, berani, terbebas dari pengaruh keluarga, mengenal kematian sejak dini,
tidak mengandalkan pada dunia.
b. Menggembala: Menumbuhkan tanggung jwab, kepemimpinan,
interaksi dengan alam, mengasah sifat jujur.
c. Berdagang: mengenal realitas kehidupan interpersonal,
mengasah sifat amanah.
d. Berkhadijah: Bersikap dewasa, berfikir strategus,
mampu membawa misi (tabligh).
e. Bergoa Hira’: bertahannuts, mencari kebenaran,
menjernihkan ruhani, siap menerima wahyu.
Iqra’ bismirabbika
1. Membaca tidak selalu menghasilkan sesuatu yang benar.
Apalagi dalam ma’rifatullah. Al Qur’an memberikan tuntunan membaca yang benar;
yaitu Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq! Inilah perubahan pertama yang akan
melahirkan pencerahan dan kesadaran hidup ber Tuhan.
2. Perubahan yang mengacu pada kesombongan akal pikiran,
melahirkan pandangan hidup sekular. Perubahan yang dipicu rasa dendam
melahirkan komunisme.
3. Dengan iqra’ bismirabbika, manusia dapat mengambil
jarak berfikir sehingga tidak terbelenggu oleh subyektivitas nafsunya. Ia juga
dapat mengambil jarak dengan orientasi hidup jahiliah menuju orientasi hidup
yang utuh. Tidak hanya pencerahan secara horisontal, tetapi juga vertikal.
4. Metode ini mendasarkan pada fitrah rububiyah yang
dimiliki setiap manusia, yaitu kesadaran berTuhan. Setiap jiwa manusia pernah
berdialog dengan Tuhannya.
5. Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan
kami), kami menjadi saksi. (QS. 7/ Al A’raaf: 172).
6. Beberapa kendala Iqra’bismirabbika:
a. Belenggu tradisi dan sejarah (31: 21)
b. Fanatisme kesukuan atau kebangsaan (3: 75)
c. Kesombongan akal (28: 78)
d. Persangkaan yang dianggap kebenaran
e. Nafsu yang diikuti (45: 23)
f.
Cinta dunia (79:
37- 39)
g. Pendapat orang banyak
7. Instrumen iqra’ bismirabbik adalah fikir dan dzikir
(96: 1) (3: 190); indra, rasio, qalbu dan wahyu. Sedangkan yang tidak
bismirabbik mengabaikan wahyu.
8. Motivasi yang mendasari iqra’ bismirabbik adalah
ikhlas karena Allah sehingga tidak terjebak pada kepentingan nafsu. Sedangkan
yang tidak bismirabbik akan terjebak oleh hawa nafsu; harta, tahta, syahwat.
9. Pedoman yang diikuti dalam iqra’ bismirabbik yaitu
petunjuk Allah (2: 257), mengenal kekuasaan Allah (3: 190), sehingga makin
menambah iman (8: 2), bahagia (2: 38), dan masuk sorga- Nya. Sedangkan yang
tidak bismirabbik mengikuti persangkaan dan hawa nafsu (53: 23), menuju
kegelapan (2: 257), lebih sesat dari binatang (7: 179), hancur binasa (23: 71),
dan penghuni neraka (7: 179).
10. Iqra’bismirabbik menghantar seseorang memiliki cara
pandang, cara sikap dan tujuan yang dilandasi nilai tauhid. Motivasi atau
niatnya lillah (ikhlas karena Allah)(2: 207- 208); (1:4); (6: 162). Metode
yang digunakan sesuai (tak bertentangan) dengan syariah atau fillah/ billah (4: 59); (6: 153).
Tujuannya yaitu ilallah (menuju ridha Allah) (6: 162- 163).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar